Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Rabu, 08 Juni 2011

jum'at pagi misterius Ada kejadian aneh di Unit Perawatan Intensif (ICU), di mana para pasien selalu meninggal di tempat tidur yang sama pada kamar yang sama dan selalu pada hari Jumat pagi, tanpa peduli umur, kelamin, kondisi kesehatan mereka ataupun latar belakang kesehatan. Hal ini sangat membingungkan para dokter. Beberapa bahkan berpikir bahwa hal tersebut ada hubungannya dengan supranatural. Mengapa selalu pada hari jumat dan pada tempat tidur yang sama? Lalu para dokter memutuskan untuk menuntaskan kasus ini dan menyelidiki penyebab dari beberapa kejadian ini… Begitu tiba hari Jumatnya, semua orang di rumah sakit tersebut dengan tegang menunggu akankah kejadian buruk itu terulang kembali. Lalu terbaringlah pasien baru rumah sakit itu disana. Beberapa dokter sudah memegang Tasbih, Qur’an, Bible bahkan sebagian lagi memegang salib kayu dan benda-benda suci lainnya untuk menangkal iblis. Sementara sang pasien masih terbaring di sana. Seiring waktu berputar… pukul 07:00… 07:30… tepat sebelum waktu keramat itu tiba… Pintu kamar itu terbuka… Kemudian masuklah Suparman… part timer cleaning service untuk hari Jumat. Ia langsung mencabut kabel alat untuk bantuan pernafasan dari stop kontaknya lalu menggantinya dengan vacuum cleaner dan mulai membersihkan ruangan.

jum'at pagi misterius

Ada kejadian aneh di Unit Perawatan Intensif (ICU), di mana para pasien selalu meninggal di tempat tidur yang sama pada kamar yang sama dan selalu pada hari Jumat pagi, tanpa peduli umur, kelamin, kondisi kesehatan mereka ataupun latar belakang kesehatan.
Hal ini sangat membingungkan para dokter. Beberapa bahkan berpikir bahwa hal tersebut ada hubungannya dengan supranatural. Mengapa selalu pada hari jumat dan pada tempat tidur yang sama?
Lalu para dokter memutuskan untuk menuntaskan kasus ini dan menyelidiki penyebab dari beberapa kejadian ini… Begitu tiba hari Jumatnya, semua orang di rumah sakit tersebut dengan tegang menunggu akankah kejadian buruk itu terulang kembali. Lalu terbaringlah pasien baru rumah sakit itu disana. Beberapa dokter sudah memegang Tasbih, Qur’an, Bible bahkan sebagian lagi memegang salib kayu dan benda-benda suci lainnya untuk menangkal iblis. Sementara sang pasien masih terbaring di sana. Seiring waktu berputar… pukul 07:00… 07:30… tepat sebelum waktu keramat itu tiba… Pintu kamar itu terbuka…
Kemudian masuklah Suparman… part timer cleaning service untuk hari Jumat. Ia langsung mencabut kabel alat untuk bantuan pernafasan dari stop kontaknya lalu menggantinya dengan vacuum cleaner dan mulai membersihkan ruangan.

orang gila, jagung dan ayam

Alkisah ada orang gila yg mengira dirinya tuh jagung jadi dia takut banget sama ayam karena takut banget di makan. tiap kali liat ayam dia pasti lari terbirit2. akhirnya, orang gila ini dimasukin ke rumah sakit jiwa.
Setaun… dua taun.. tiga taun… akhirnya dia dipanggil oleh sang dokter.
“kamu sudah tau sekarang kamu ini siapa?” kata si dokter.
“sudah dokter,” sahut si orang gila
“jadi kamu ini siapa?”
“saya orang, dokter.”
“bener?”
“iya dokter, saya orang.. bukan jagung.”
“jadi kamu gak takut lagi sama ayam kan?”
“enggak dokter.. gak takut lagi..”
“tapi dokter,” sela si orang gila,” saya ada satu pertanyaan..”
“apa itu?”
“ayam2 itu….. tau gak ya kalau saya sudah berubah jadi orang?”

Rabu, 15 Desember 2010





Sabtu, 09 Oktober 2010

Orang Batak Menyetop Taksi

Suatu hari, ada orang Batak yang sedang berwisata di kota Jakarta dan ia bermarga Manalu, saat menunggu taksi yang lewat iapun duduk untuk beristirahat.
Saat itu ia melihat ada taksi tak berpenumpang yang kebetulan lewat maka segera iapun menyetop taksi itu, dan saat diberhentikan sang supir taksi bertanya kepada si Batak ini. “Mana lu?” tanyanya sambil mengintip dari jendela (maksudnya kamu mau ke mana?), si Batak ini kaget dan bergumam “Bah, hebat kali supir taksi di Jakarta ini? Belum apa-apa sudah tahu namaku.”
Lalu ia bertanya lagi pada si supir taksi ini “Hei kau, kau paranormal ya?” Lalu supir taksi ini menjawab sambil nyeleneh dan pergi “Sinting.” Si Batak ini bergumam lagi “Bah, lebih hebat lagi supir taksi ini, dia tahu kemana tujuanku.
Aku kan mau pergi ke rumah temanku si Ginting.” Karena dari 5 taksi yang ia berhentikan mengatakan hal yang sama saja, si Batak ini frustasi dan akhirnya memutuskan untuk naik metro mini saja daripada repot-repot cari taksi.
Di dalam metro mini ia berkata dalam hati “Supir-supir taksi di Jakarta ini paranormal semua kelihatannya tetapi aneh, kok mereka tak mau kutumpangi ya? Padahal uangku cukup.”

Tanah Abang

Pemuda Jawa : “Maaf, saya orang baru di Jakarta, baru datang dari Jawa… apakah ini Tanah Abang?”
Pemuda Batak : “Oh bukan…. ini bukan tanah aku, sumpah! Aku juga baru datang dari Medan, jadi aku juga tidak tahu tanah siapa ini…”

Senin, 05 April 2010

Robheart Eastar

Robheart Eastar

Young men's knocks old men feel. - Proverb, (english)

You have to stay in shape. My grandmother, she started walking five miles a day when she was 60. She's 97 today and we don't know where the hell she is. - Ellen Degeneres

Trying is a part of failing. If you are afraid to fail then you're afraid to try. - Mrs. Cunningham

The darkest hour of a man's life is when he sits down to plan how to get money without earning it. - Horace Greeley

A restive morsel needs a spur of wine. - Proverb, (french)

Whatever is worth doing at all, is worth doing well. - Lord Chesterfield

The most thoroughly wasted of all days is that on which one has not laughed. - Nicolas Chamfort

A blow with a reed makes a noise but hurts not. - Proverb, (spanish)

Count your blessings. - Proverb, (german)

In the looking-glass we see our form, in wine the heart. - Proverb, (german)

A hug a day keeps the demons at bay. - Proverb, (german)

A man he seems of cheerful yesterdays, And confident to-morrows. - William Wordsworth, The Excursion

Be this our wall of brass, to be conscious of having done no evil, and to grow pale at no accusation. - Proverb

Too late is tomorrow's life; live for today. - Martial

And now am I, if a man should speak truly, little better than one of the wicked. -King Henry IV. Part I. Act i. Sc. 2. - William Shakespeare

On a fool's beard all learn to shave. - Proverb, (portuguese, Spanish)

Every Communist must grasp the truth: "Political power grows out of the barrel of a gun.". - Mao Tse-tung

We cannot really love anybody with whom we never laugh. - Mary Roberts Rhinehart

The lazy man who goes to borrow a spade says, "I hope I will not find one." - Proverb, (madagasy)

Better one living word than a hundred dead ones. - Proverb, (german)

Jumat, 05 Februari 2010

training in Singapore

[ Minggu, 12 April 2009 ]
Kisah Mahasiswa Surabaya yang Magang Kerja di Singapura
Upah Dipotong Agency, Makan Ambil Jatah Kantor

Berniat mencari ilmu dan pengalaman di Singapura, mahasiswa asal Surabaya Febi Defiani harus hidup nelangsa. Bersama puluhan temannya asal Indonesia, dia harus membanting tulang untuk hidup di tanah rantau. Berikut laporan wartawan Jawa Pos Astanto Al Budiman yang belum lama ini menemui Febi cs di pondokannya di Singapura.

---

SORE itu di sebuah kos-kosan berlantai empat di kawasan Geylang, Singapura, Jawa Pos menemui Febi Defiani. Mahasiswa asal Surabaya tersebut sudah lima bulan mengikuti program magang di sebuah restoran di Bukit Datok, cukup jauh dari kosnya. Untuk pergi-pulang ke tempat kerja, dia harus menggunakan kereta SMRT.

Di Resto Pastamania itu, cewek 21 tahun tersebut magang (bekerja) sebagai pramusaji. Program magang itu merupakan bagian program studinya di Akademi Pariwisata Group Studi dan Pelatihan International (GSP International) Surabaya. Dia tinggal sebulan lagi menyelesaikan program magang enam bulan tersebut.

Tapi, bukannya pengalaman manis dan ilmu yang didapatkan selama lima bulan tinggal di negeri jiran. Febi mengaku selama itu dirinya harus bekerja keras agar bisa bertahan hidup di perantauan. ''Padahal, kami sudah mengeluarkan banyak uang untuk mengikuti program ini. Janjinya juga banyak yang tidak sesuai dengan kondisi di sini,'' ujarnya.

Untuk mengikuti program magang di Singapura tersebut, Febi harus mengeluarkan uang Rp 6 juta. Uang itu digunakan untuk pengurusan paspor, fiskal, dan tiket pesawat Surabaya-Batam (dilanjutkan menyeberang ke Singapura menggunakan feri). Pemondokan selama tinggal di Singapura ditanggung agency yang akan menyalurkan mahasiswa ke tempat magang.

''Sebenarnya bukan ditanggung agency, melainkan dipotongkan dari upah saya bekerja,'' tutur mahasiswi yang tinggal di kawasan Juanda tersebut.

Menurut Febi, program magang itu tidak layak disebut pendidikan. ''Bilang saja sejak dulu kalau kita mau dipekerjakan,'' ujarnya dengan nada tinggi.

Dia menilai, program magang yang digagas kampusnya (GSP-International) itu merupakan sebuah penipuan ketenagakerjaan. Sebab, kata Febi, materi magang yang dia terima tidak seperti yang dijanjikan sebelum berangkat lima bulan silam. ''Izin masuk ke Singapura saja, kami harus bohong dengan tujuan wisata,'' tegasnya.

Di tempat kerja, Febi benar-benar merasa nelangsa. Sebab, dia ternyata dipekerjakan sebagai pramusaji alias pelayan di sebuah kafe/restoran. Apalagi, jarak antara tempat kos dengan tempat kerja cukup jauh. Dia harus naik kereta SMRT pergi-pulang. ''Ongkosnya bayar sendiri. Ya lumayan, 4 dolar Singapura PP. Paling mahal dibanding ongkos teman-teman,'' ungkapnya.

Belum lagi biaya makan dan tetek-bengek lainnya yang tidak sedikit. ''Pokoknya, upah sebulan saya habis,'' tambahnya.

Sebulan, Febi mendapat upah 950 dolar Singapura. Namun, setiap gajian, sudah dipotong 600 dolar oleh agency untuk membayar kos-kosan. Sisanya untuk hidup dengan kondisi pas-pasan. Di antaranya, 168 dolar untuk transportasi ke tempat kerja. Untuk makan, Febi menggantungkan jatah dari kantornya. Hanya, sesekali dia membeli mi instan untuk makan malam di kos-kosan.

''Untuk minum saja, saya harus ambil air di tempat kerja untuk saya bawa pulang. Kalau tidak begitu, pengeluaran saya bisa tambah banyak,'' ujarnya. ''Terus terang, sampai saat ini saya belum bisa menabung karena memang tidak ada yang bisa ditabung,'' imbuhnya.

Febi tidak berani bertanya kepada agency-nya soal ketidakberesan yang dirasakan itu. Sebab, untuk setiap pertanyaan yang bernada protes, agency akan mendenda peserta program. Selain itu, denda diberikan kepada penghuni kos-kosan yang melanggar aturan. ''Dendanya sekitar 50 dolar Singapura. Untungnya, saya belum pernah kena denda,'' paparnya.

Dia menyesalkan senior-seniornya di GSP yang tidak pernah bercerita tentang realitas program magang di Singapura tersebut. ''Apa mereka tidak punya perasaan ya?'' ujarnya.

Di kos-kosan yang kumuh dengan dua tong sampah besar penuh sampah di dalam ruangan, Jawa Pos juga bertemu enam mahasiswa dari perguruan tinggi berbeda. Mereka adalah Noval Tridianto dari Cilacap, Ninik Sri Lestari (Jogja), Jamalludin Bashori (Madura), Ida Bagus Ade Prayoga Sandhi (Bali), I Kadek Dody Darwin (Bali), dan Utaminingrum (Jogja).

Mereka juga peserta program magang seperti yang dilakoni Febi. Di Singapura, mereka berkumpul di bawah koordinasi agency yang sama: Simons Agency. ''Total di kos-kosan ini, tinggal 24 mahasiswa Indonesia,'' ujar Uut, sapaan akrab Utaminingrum.

Seperti halnya Febi, Uut juga merasakan kekecewaan menjalani program magang itu. Misalnya, soal gaji yang sudah dipotong agency. ''Saya merasa tertipu. Suakit hati ini,'' ujarnya lantas memeluk temannya, Ninik Sri Lestari, dengan mata berkaca-kaca.

Uut menunjukkan kontrak kerjanya. Di kontrak kerja itu tertulis bahwa dia berhak menerima gaji 950 dolar Singapura. Kenyataannya, dia hanya menerima 350 dolar. ''Semua anak di sini terima 350 dolar,'' ujar mahasiswi asal Jogjakarta tersebut.

''Itu sangat berbeda dari tempat saya magang di Malaysia tahun lalu,'' imbuh perempuan berkulit putih tersebut.

Sementara itu, Rabu (8/4), Jawa Pos mengonfirmasi ke Kampus GSP International di kawasan Basuki Rahmat Surabaya soal kondisi mahasiswanya yang menjadi peserta program magang di Singapura. Lembaga yang didirikan pada 2000 tersebut berada di lantai dua Gedung Gelael, samping Tunjungan Plaza. GSP berpusat di Jakarta dan memiliki cabang di beberapa daerah. Di antaranya di Tangerang, Surabaya, Bali, Malang, dan Jogjakarta.

Menurut Saiful, salah seorang staf manajemen GSP, mahasiswa GSP International sebenarnya tidak diwajibkan mengikuti magang di luar negeri. ''Keluar negeri atau tidak, itu pilihan si mahasiswa,'' ujarnya.

Namun, kata dia, nilai sertifikat luar negeri akan berbeda dibanding yang di dalam negeri. Untuk magang ke luar negeri, mahasiswa diwajibkan membayar biaya transportasi Rp 4 juta-Rp 5 juta untuk berangkat ke Singapura. ''Kami punya agency atau semacam lembaga outsourcing di sana,'' ujarnya. ''Agency itulah yang mengatur tempat tinggal dan di mana mahasiswa magang,'' jelas anggota tim program magang di Singapura itu.

Dia menjelaskan, selama proses magang di Singapura, setiap mahasiswa akan mendapatkan gaji 350 dolar. Jika dikurskan dalam rupiah, jumlah uang dolar Singapura itu memang terlihat besar, sekitar Rp 2 juta. Namun, jika untuk biaya hidup di sana, uang itu jadi sangat kecil.

Saat dijelaskan bahwa gaji 350 dolar itu tidak cukup untuk hidup di Singapura, Saiful menjawab, ''Ya mereka harus mencari tambahan dengan overtime (melembur, Red).''

Saat ditanya apakah ada pengawas GSP International di Singapura? Saiful menjawab, ''Semua sudah ditangani agency di sana.'' (*/ari)